Masyarakat Mekar Jaya Merayakan 10 Muharam dengan Bubur Asyuro dan Do’a Bersama

DESA MEKAR JAYA-KIM Mekar Jaya.  Masyarakat Sebuton dan Air Batang desa Mekar Jaya  hingga kini masih menjaga tradisi merayakan tanggal 10 Muharam dengan membuat bubur Asyura. “Tiap tanggal 10 Muharam, kami membuat bubur Asyura. Kami membuatnya secara bergotong royong mulai dari pengumpulan bahan, kayu bakar untuk memasak, hingga memasak.” kata Zurhan, Imam masjid Al-Ghofar Sebuton. Saat ditemui di halaman Masjid Al-Ghofar bersama dengan masyarakat yang  sedang sibuk membuat bubur Asyura. Bubur yang terdiri dari aneka campuran ikan, kerang, gurita dan lain-lain  serta berkuah santan itu dimasak dalam kuali besar. Campuran aneka bahan itu menghasilkan bubur yang kental.

 

Di tempat yang berbeda, Masjid Al-Ijtihad Air Batang juga melakukan hal yang sama dalam waktu yang bersamaan. Semua warga khususnya yang laki-laki bergotong royong mengumpulkan kayu bakar, menyiapkan dapur dan sebagainya. Sedangkan kaum hawa sibuk menyiapkan bumbu dan bahan lainnya untuk dimasak menjadi bubur asyuro untuk dimakan secara bersama di Masjid.

 

“Setiap  tahun saya ikut bersama masyarakat lainnya bergotong royong membuat bubur Asyura namun saya tidak tahu pasti dengan tradisi ini,” kata salah seorang warga. Ia mengatakan, biasanya bubur Asyura setelah dimasak lalu dimakan bersama-sama dengan terlebih dahulu dibacakan doa selamat. Sementara itu Harjono, tokoh pendidikan, kepala MTs Miftahunnajah kepada masyarakat   menjelaskan secara detail mulai dari pengertian asyuro itu sendiri hingga ke peristiwa-peristiwa yang terjadi berkenaan dengan 10 Muharrom.

“Pengertian Asyuro secara terminologi, Asyuro berasal dari kata ‘Asyaroh yang berarti 10. Kata ini dipakai untuk menunjukkan hari ke-10 bulan Muharrom di tahun Hijriah. Mengapa umat Islam banyak mensyi’arkan hari ke-10 Muharrom/hari Asyuro tersebut? Karena kata Imam Ghozali, pada pada tanggal 10 Muharrom banyak terjadi peristiwa-peristiwa besar pada umat Islam. Diantaranya, Allah menciptakan langit dan bumi, Nabi Nuh diselamatkan dari banjir bandang, Nabi Yunus diselamatkan dari perut ikan Nun, Nabi Musa diselamatkan dari kerajaan Fir’aun di laut merah, Nabi Adam diturunkan ke bumi, Nabi Sulaiman diberikan kekuasaan, dll”

Lanjut Harjono menjelaskan bahwa sebagai umat Islam kita dianjurkan melakukan beberapa amalan-amalan dihari Asyuro. Diantaranya yang pertama adalah puasa sunat Asyuro tanggal 10 Muharrom, puasa sunat Tasyu’ah pada tanggal 9 Muharrom. Puasa Tasyu’ah merupakan puasa yang tidak sempat dikerjakan oleh Rasulullah karena Beliau sudah dipanggil oleh Allah SWT. Tapi puasa ini dianjurkan oleh Beliau. Yang kedua, mengusap kepala anak yatim dan menyantuninya. Dan yang ketiga adalah memberi makan orang miskin. Mengenai memberi makan ini kebanyakan dari masyarakat kita dilakukan dengan cara memasak bubur bersama dan dimakan bersama-sama pula, sehingga disebut pula dengan istilah bubur Asyuro. (Ahdi-KIM.MJ)